Bogor (ANTARA) - Aliansi Kebangsaan Indonesia dan Forum Rektor Indonesia (AKI dan FRI) menilai pangan adalah komoditas strategis baik dari perspektif ekonomi, politik, dan sosial, sehingga ketersediaan pangan di suatu negara bisa menjadi isu strategis global.

"Isu pangan bisa mempengaruhi stabilitas politik, ekonomi, dan bahkan ketahanan nasional di suatu negara," kata Ketua AKI, Pontjo Sutowo, di Bogor, Selasa,

Menurut Pontjo Sutowo, isu pangan merupakan bagian dari ranah material teknologikal, yakni salah satu ranah dari tiga ranah yang menentukan peradaban suatu bangsa dan menjadi tantangan bangsa Indonesia.

"Ketiga ranah ini harus dipahami dan diimplementasikan untuk mengubah paradigma bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan kompetitif," kata Ketua AKI, Pontjo Sutowo, di Bogor, Selasa.

Baca juga: Bank DKI gelontorkan dana untuk kebutuhan pangan Rp400 miliar

Menurut Pontjo Sutowo, untuk menerjemahkan konsep ranah material teknologikal, dan mensosialisasikannya ke publik, AKI dan FRI, bersama IPB University, menyelenggarakan diskusi publik "Penguasaan dan Pengembangan Inovasi Teknologi untuk Ketahanan Pangan Nasional" di Auditorium Gedung Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Selasa.

Menurut Pontjo Sutowo, diskusi publik ini tujuannya untuk mendesiminasikan dan memperkaya pemikiran serta gagasan yang telah berkembang sebelumnya.

AKI dan FRI, memilih IPB University menjadi penyelenggara diskusi publik yang kedua, menurut Pontjo, karena IPB dinilai, sangat paham terhadap pangan.

Isu pangan, kata dia, bisa mempengaruhi bisa mempengaruhi stabilitas politik, stabilitas ekonomi, dan bahkan ketahanan nasional suatu negara.

Pontjo menegaskan, ketahanan pangan sudah seharusnya menjadi salah satu prioritas utama pembangunan nasional yang harus terus diperjuangkan. "UU Pangan juga mengamanahkan, bahwa penyelenggaraan pangan harus berdasarkan kedaulatan pangan," katanya.

Baca juga: Delapan bendungan Program Strategis Nasional ditargetkan rampung 2020

Indonesia, kata dia, memiliki wilayah geografis sangat luas, penduduknya memiliki keterampilan bertani, tapi kenapa Indonesia saat ini malah impor bahan pangan. "Kita harus bergerak, tidak boleh membiarkan bangsa ini terus terlena. Indonesia harus berkembang, menjadi negara dengan kemandirian pangan," katanya.

Sementara itu, Rektor IPB Arif Satria, mengatakan, pertanian memiliki keniscayaan untuk terus berkembang dengan adanya perubahan kebudayaan bertani dan adanya perkembangan teknologi.

"Dunia pertanian, berkembang, mulai dari ladang berpindah, ladang menetap, bercocok tanam, sampai pada pertanian modern saat ini," katanya.

Menurut Arif Satria, agar pertanian Indonesia maju, maka sumber daya manusia dan teknologi juga harus berkembang. "Untuk kemajuan pertanian, bukan hanya petani di sawah dan ladang, tapi daya dukung sumber daya manusia lainnya yang terkait, untuk mendukung kemajuan pertanian modern," katanya.