Lebak (ANTARA) - Masyarakat korban bencana banjir bandang dan longsor di Kabupaten Lebak, Banten, membutuhkan permodalan karena rumah dan seisinya, termasuk uang hanyut dan hilang.

"Kami juga bingung untuk usaha setelah areal persawahan dan ladang tertimbun longsoran," kata Maju (45), seorang pengungsi warga Cigobang Kecamatan Lebak Gedong Kabupaten Lebak, Sabtu.

Masyarakat pasca-bencana alam tersebut kesulitan untuk membuka usaha karena tidak memiliki modal itu.

Sebab, uang untuk modal berjualan hilang dan hanyut diterjang banjir bandang dan longsor, bahkan anak pertama meninggal dunia.

Baca juga: Legislator: Rampungkan Bendungan Karian guna atasi banjir di Lebak

Baca juga: QudwahCare Lebak bangun jembatan gantung pasca-bencana

Baca juga: BNPB tanam vetiver di Taman Nasional Gunung Halimun


"Kami berharap pemerintah maupun relawan dapat memberikan permodalan,sehingga bisa kembali berjualan aneka makanan," katanya menjelaskan.

Rohman (45) seorang warga pengungsi di Kampung Seupang Desa Pajagan Kecamatan Sajira mengaku bahwa dirinya kini tidak bisa kembali berdagang pakaian keliling, karena rumah dan seisinya hanyut dan hilang diterjang banjir bandang awal tahun 2020.

Saat ini, dirinya bersama anggota keluarga tinggal di tenda pengungsian tidak menyisakan pakaian maupun perabotan rumah tangga.

Karena itu, dirinya berharap warga korban banjir bencana alam dapat dibantu permodalan usaha, sehingga bisa melaksanakan kegiatan ekonomi.

Apalagi, dua anaknya yang masih duduk dibangku SD dan SMP memerlukan biaya untuk pendidikan.

"Semua barang-barang rumah dan uang untuk modal sebesar Rp15 juta hanyut diterjang banjir bandang. Namun, beruntung batuan aneka makanan dari dermawan, relawan hingga pemerintah masih mengalir," katanya menjelaskan.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Lebak Tajudin Yamin mengatakan pemerintah daerah akan memberikan pelatihan kerja bagi warga korban banjir bandang dan longsor agar mereka memiliki ketrampilan.

Pelatihan ketrampilan itu bertujuan para warga pengungsi bisa hidup mandiri sehingga tidak menjadikan beban sosial.

Kemungkinan ketrampilan tersebut jurusan menjahit, elektronika, perbengkelan, salon, kuliner dan las.

"Kami yakin melalui pelatihan ketrampilan itu dapat hidup mandiri dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan," katanya.*

Baca juga: Menteri LHK: 108 lubang PETI di TNGHS jadi prioritas untuk ditutup

Baca juga: Trauma hilang, anak korban bencana banjir di Lebak mulai bermain lagi

Baca juga: Pasca banjir-longsor, KLHK tanam pohon akar wangi di Lebak