Jakarta (ANTARA) - Entah mengapa tiba-tiba wabah virus corona jenis baru yang mewabah di China sejak Desember 2019 dikait-kaitkan dengan Islam.

Bahkan, ada unggahan di salah satu media sosial di Indonesia yang mengaitkan wabah mematikan itu dengan Islam di Wuhan yang merupakan episentrum wabah COVID-19.

Padahal Ibu Kota Provinsi Hubei yang berada di wilayah tengah daratan China itu bukan salah satu daerah yang banyak dihuni umat Islam dari etnis Hui, seperti Xi'an di Provinsi Shaanxi, Provinsi Gansu, Provinsi Qinghai, Provinsi Ningxia, begitu juga dengan Daerah Otonomi Xinjiang yang banyak dihuni oleh etnis Uighur.

Lucunya lagi, postingan yang juga tersebar secara berantai itu menyebutkan bahwa Islam di Wuhan sudah ada sejak Khalifah Umar bin Khattab RA.

Literatur-literatur tentang Islam di China menyebutkan bahwa peyebar ajaran Islam pertama di Tiongkok itu adalah Sa'ad bin Abi Waqqash RA, paman Nabi Muhammad SAW.

Sa'ad memperkenalkan Islam ke China pada tahun 620 Masehi atau pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA yang memerintah setelah Umar RA.

Tujuh tahun setelah mendarat di Kota Guangzhou di wilayah selatan China, Sa'ad membangun Masjid Huaisheng yang dilengkapi dengan mercusuar untuk memandu kapal dari Laut China Selatan memasuki muara Sungai Mutiara. Masjid yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari makam Sa'ad di jantung Kota Guagzhou itu merupakan bangunan masjid pertama di China.

Islam kembali diseret-seret dalam pusaran wabah corona di Wuhan dengan tersebarnya video masyarakat China shalat di salah satu masjid.

Narasi dalam video itu mengarah pada pertobatan rakyat Tiongkok setelah didatangi "pagebluk" yang merenggut lebih dari seribu nyawa manusia itu.

Sayangnya, video yang beredar di medsos itu ditelan begitu saja, bahkan oleh orang-orang terdidik dan berkedudukan yang sebenarnya punya kesempatan lebih banyak untuk bertabayun ketimbang masyarakat awam di Indonesia yang memang tingkat literasinya sangat rendah.

Jelas-jelas gambar di video itu orang-orang China yang ikut-ikutan shalat sampai salah kiblat memakai celana pendek. Antara November hingga Februari seluruh wilayah daratan China sedang musim dingin, mana ada orang pakai celana pendek dan kaus oblong kayak di video itu.

Lagi pula sejak pemerintah China menyatakan wabah pneumonia tersebut sebagai darurat nasional pada 23 Januari 2020, masyarakat setempat mengenakan masker saat berada di luar rumah, tidak seperti di video itu yang tak satu pun mengenakannya.

Kemudian pada 24 Januari, semua pemerintah daerah di China mengeluarkan surat edaran ditiadakannya kegiatan massal untuk mencegah penularan virus tersebut.

Berbagai acara perayaan Imlek dan kegiatan keagamaan, termasuk shalat Jumat di China turut pula ditiadakan.

Belum lagi video lama kunjungan Presiden China Xi Jinping ke salah satu masjid di Ningxia pada 2016 turut menjadi komoditas hoaks yamg turut memperkeruh pandemi tersebut.

Baca juga: Menyingkap peran Tim Lima di sarang corona
Baca juga: Saat-saat menjelang 23 Januari


Relawan Arab
Di tengah maraknya wabah tersebut, ada yang menyita perhatian ketika sekelompok ekspatriat dari negara-negara Arab yang beramai-ramai mendaftarkan diri sebagai tenaga sukarelawan di Wuhan.

"Saya seorang dokter. Saya bisa berbicara bahasa Arab, Mandarin, dan Inggris. Saya bisa membantu merawat pasien, memberikan informasi, dan melakukan apa saja," kata Ali Wari, warga negara Palestina, yang tinggal di Wuhan, Minggu (9/2) lalu.

Dia menggalang dukungan dengan membuat grup Wechat, pesan instan yang sangat populer di China, yang diberi nama "Wuhan 2019-nCoV" dan kini telah memiliki anggota sekitar 480 orang dari negara-negara Arab yang kebanyakan bekerja di Wuhan.

Beberapa pekan yang lalu, Wari menerjemahkan dan menyebarkan informasi-informasi penting mengenai penyebaran virus itu, termasuk langkah-langkah yang telah diambil oleh pemerintah setempat, untuk menenangkan warga Arab di China.

Mohamad Khotib yang juga berasal dari Palestina meminta keluarganya bergabung dengan Wari.

Beda lagi dengan Mohamad Asaad, kandidat doktor dari Mesir, yang sudah telanjur cinta dengan Kota Wuhan.

"Saya sedih melihat kota yang gemerlap ini. Sekarang saatnya mendukung dan saling bekerja dengan baik. Karena itu, saya sebagai relawan telah mendarmabaktikan diri dan mendukung kawan-kawan China saya untuk mengatasi masa-masa yang sulit ini," katanya.

Dengan mengatasnamakan warga Arab, Wari telah mengajukan permohonan kepada Kantor Urusan Luar Negeri (FAO) Kota Wuhan agar diizinkan menjadi tenaga sukarelawan.

"Saya ingin membantu apa yang bisa saya lakukan. Kami tinggal di Wuhan, makanya saya cinta kota ini," tutur Wari.

Sementara itu, seorang warga beretnis Uighur Xinjiang, Ba Baintolle, menyumbangkan 11 ekor kudanya.

Uang hasil penjualan 11 ekor kuda senilai 88.000 yuan atau sekitar Rp171,9 juta itu diberikan kepada Pemprov Hubei untuk mengatasi wabah tersebut.

Penggembala kuda itu tinggal di Kabupaten Wenquan, Daerah Otonomi Xinjiang. Kabupaten Tongcheng, Provinsi Hubei, setiap tahun menyumbangkan 300.000 yuan (Rp586 juta) kepada warga Wenquan untuk membangun infrastruktur, pengenalan teknologi, dan membangun sekolahan.

"Saya sangat sedih dengan berjangkitnya wabah di Hubei. Mereka banyak sekali bantu kami dan sekarang saatnya saya membantu mereka," ujar Baintolle.

Pria yang memiliki 400 ekor kuda dengan pendapatan sekitar 150.000 yuan (Rp293 juta) per tahun itu mengatakan bahwa kuda melambangkan keberanian dan ketangguhan.

"Saya berharap masyarakat Hubei dengan gagah berani bisa menundukkan virus tersebut. Jangan menyerah. Hati saya bersamamu, meski jarak kita ribuan mil," ucapnya.
Takmir masjid Yunxigong, Distrik Wuhua, Kota Kunming, Provinsi Yunnan, menyumbangkan dana senilai 100.000 yuan untuk penanggulangan wabah corona di China. (ANTARA/HO-Qingzhenguyun/mii)

Masjid ke Masjid
Selain itu, umat Islam di China juga melakukan tindakan nyata dalam mengatasi wabah virus mematikan itu.

Informasi yang dihimpun ANTARA dari berbagai sumber menyebutkan bahwa komunitas umat Islam di Beijing yang tersebar di Distrik Dongcheng, Distrik Xicheng, Distrik Chaoyang, Distrik Haidian, Distrik Fengtai, dan Distrik Tongzhou telah menyumbangkan dana senilai 540.000 yuan (Rp1,05 miliar) pada 6 Februari kepada pemerintah setempat untuk penanggulangan COVID-19.

Ada juga jamaah Muslim di Provinsi Hebei pada tanggal yang sama "mentasarrufkan" uang senilai 650.000 yuan (Rp1,24 miliar), 10.000 potong masker, 1.000 kacamata, dan 100 set pakaian pelindung petugas medis.

Lalu di Provinsi Shandong, umat Islamnya telah menyumbangkan dana senilai 5,57 juta yuan (Rp10,9 miliar). Asosiasi Muslim Provinsi Henan dan Daerah Otonomi Mongolia Dalam, masing-masing juga telah mendonasikan dana senilai 1,52 juta yuan (Rp2,98 miliar) dan 837.000 yuan (Rp1,6 miliar).

Tidak mau ketinggalan, Provinsi Gansu yang banyak dihuni oleh etnis Hui Muslim, beberapa pengurus masjidnya mampu menggalang dana hingga mencapai 2,08 miliar yuan (Rp4,08 triliun), seperti tertera di laman Qingzhen Guyun.

Demikian pula masjid-masjid di Provinsi Ningxia, Provinsi Yunnan (kampung halaman pelaut legendaris China Cheng Ho), Daerah Otonomi Tibet, Provinsi Qinghai, Provinsi Anhui, dan Provinsi Zhejiang juga menyumbangkan dana untuk penanganan wabah itu hingga jutaan yuan.

Hal itu belum termasuk sumbangan yang dihimpun sejumlah perusahaan makanan dan minuman halal serta restoran halal di China.

Bahkan asosiasi restoran halal di Wuhan turut berpartisipasi menyediakan makanan dann minuman bagi petugas medis dan petugas lainnya yang berada di medan pertempuran COVID-19.

Namun sayang, keterlibatan umat Islam di China dalam memerangi wabah tersebut tidak banyak mendapatkan tempat di media-media internasional.

"Kami secara aktif menyerukan kepada anggota jamaah untuk berperan sesuai syariat Islam dalam beramal membantu masyarakat miskin dan berkontribusi nyata dalam pencegahan dan pengendalian epidemi ini," demikian pernyataan Asosiasi Islam China (CIA).

Baca juga: Cek fakta: Benarkah rakyat non-muslim China ikut shalat karena takut corona?
Baca juga: Ilmuwan China identifikasi trenggiling kemungkinan inang virus corona