Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan pergeseran zona aktif atau kluster-kluster aktivitas gempa kecil merupakan hal wajar karena wilayah Indonesia memiliki sumber gempa yang banyak.

"Pergeseran zona aktif dari waktu ke waktu adalah dinamika aktivitas gempa tektonik di Indonesia. Ini wajar karena wilayah kita memiliki sumber gempa yang banyak," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono yang dihubungi di Jakarta, Sabtu.

Ia mencontohkan, kluster aktivitas gempa-gempa kecil atau zona aktif yang ada pada Januari 2020 bisa jadi masih ada hingga Februari, tetapi bisa jadi ada kluster yang berubah tidak aktif atau bergeser ke zona lain.

Baca juga: BMKG: Kerentanan gempa di Indonesia harus diterima

Adapun klaster gempa kecil pada Januari 2020 ada delapan yaitu tampak pertama ada di Nias, Simeulue, kedua ada di Bengkulu dan Jawa Barat, ketiga di Bali, Lombok, Sumba, keempat di Gorontalo, kelima di Laut Maluku, keenam di Ambon, ketujuh di Banda dan kedelapan di Mamberamo Papua.

"Dari klaster aktivitas gempa ini kita dapat mengetahui adanya zona aktif yang masih bertahan seperti yang ada di Lombok, Ambon, dan Mamberamo namun demikian ada zona aktif yang cepat berakhir tanpa terjadi gempa kuat," katanya.

BMKG mencatat pada Januari 2020 terjadi sebanyak 518 kali gempa, jumlah mengalami penurunan dibandingkan dengan Desember 2019 yang terjadi sebanyak 691 kali. Aktivitas kegempaan tersebut di kondisi normal di mana rata-rata dalam sebulan terjadi gempa sekitar 500 kali.

Peta zona aktif adalah laporan aktivitas gempa bulanan, dimana BMKG melakukan tugasnya memonitoring gempa di wilayah Indonesia.

Menjadi bagian dari tugas BMKG dalam memberikan informasi gempa bumi serta mengedukasi masyarakat terkait aktivitas gempa bumi di Indonesia.

Dia menegaskan bahwa peta zona aktif bukanlah prediksi gempa sehingga masyarakat tidak perlu takut dan khawatir.

"Hanya kita sebaiknya perlu tetap waspada dengan zona aktif karena pada bulan Januari kondisi kegempaanya cukup aktif, bisa jadi masih berlanjut pada Februari, tetapi bisa juga aktivitasnya berakhir di bulan Februari tanpa ada gempa signifikan," tambah Daryono.

Baca juga: Gempa di Papua bukti Sesar Anjak Mamberamo zona sumber paling aktif