Semarang (ANTARA) - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersilaturahmi dengan komunitas Tionghoa di Kota Semarang, Jumat, menjelang Tahun Baru Imlek 2571.

Ganjar tiba di gedung Rasa Dharma untuk menghadiri undangan jamuan makan dari Perkoempoelan Sosial Rasa Dharma atau Boen Hian Tong di Jalan Gang Pinggir Kota Semarang, usai melaksanakan ibadah shalat Jumat di Masjid An Nur Diponegoro yang menjadi satu-satunya masjid di kawasan Pecinan.

Saat berada di lokasi, Ganjar langsung diajak Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata (Kopi Semawis) Haryanto Halim untuk menengok altar, sinchi, prasasti doa untuk mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan berbagai hidangan yang tersedia di depan altar.

Baca juga: Vihara Dharma Ramsi Bandung nyalakan ratusan lilin jelang Imlek

Baca juga: Harapan Yeslin Wang di tahun Tikus Logam


Berbagai olahan daging ayam jadi menu utama, selain tumpeng nasi kuning dan kudapan khas Tionghoa yang menjadi hidangan pelengkap.
Hidangan utama berupa olahan daging ayam tersebut bukan karena kehadiran Gubernur Ganjar, meski sebagai kelompok sosial yang berbasis di Pecinan, ada tiga muslimah yang menjadi bagian dari kepengurusan kelompok yang telah berdiri sejak 1876 itu.


"Sajian daging babi kita ganti dengan daging kambing. Ini penghormatan kami kepada Gus Dur, satu-satunya Muslim yang berada di altar ini," kata Haryanto Halim.

Setelah keliling dan berfoto di dalam gedung Rasa Dharma tersebut, Ganjar lantas dipersilakan santap siang.

Ketika hendak berpamitan, beberapa ibu-ibu memanggil sehingga menghentikan langkah gubernur berambut putih itu untuk memberi Tenong, bingkisan berisi makanan. Ibu-ibu itu kemudian menjelaskan masing-masing dari kudapan dalam Tenong itu memiliki makna sendiri-sendiri.

"Di dalam ini semuanya bermakna, jajanan manis biar hidupnya manis, kue lapis biar rezekinya berlapis, kue keranjang biar rezekinya masuk ke keranjang," kata ibu-ibu pengurus Rasa Dharma itu.

Mendengar hal itu, Ganjar mengucapkan terima kasih dan berkata "Yang jelas ini membikin kenyang".

Menurut Ganjar, inilah cara yang sebenarnya bertoleransi, ternyata bukan hanya Jawa atau Islam, komunitas Tionghoa juga ada kenduri dan pulang membawa berkat.
"Proses akulturasi dengan budaya bisa dilakukan oleh agama manapun sebagai bibit-bibit toleransi," ujarnya.

Baca juga: Ragam pernak-pernik Imlek yang paling dicari di tahun Tikus Logam