Palembang (ANTARA) - Dua BUMN yang beroperasi di Sumatera Selatan, PT Pupuk Sriwidjaja dan PT Semen Baturaja mengikat kontrak kerja sama dalam penyuplaian bahan baku pembuatan pupuk majemuk NPK.

Direktur Utama PT Pusri Mulyono Prawiro menandatangani nota kesepahaman dengan Direktur Utama PT Semen Baturaja Jobi Triananda Hasjim tentang pembelian ‘white clay’ yang merupakan produk turunan Semen Baturaja di Palembang, Selasa.

Sebanyak 5.000 ton clay akan disuplai dari pabrik Semen Baturaja di Baturaja ke pabrik Pusri di Palembang dalam masa tiga tahun ke depan.

Baca juga: Penjualan Semen Baturaja tumbuh 2 persen semester I-2019

Mulyono mengatakan kerja sama ini merupakan bagian dari sinergi BUMN yang ada di Provinsi Sumatera Selatan, karena sebelumnya Semen Baturaja juga mendapatkan suplai abu sisa pembakaran pembangkit dari PT Pusri.

“Selama ini Pusri membeli clay itu di Tuban. Tentunya dengan beralih ke PT Semen Baturaja, kami bisa menghemat biaya produksi karena berada dalam satu daerah, diperkirakan bisa menekan hingga 20 persen,” kata dia.

Ia mengatakan bahan baku white clay ini sangat dibutuhkan Pusri untuk pembuatan pupuk NPK karena berfungsi sebagai perekat.

Saat ini, ia melanjutkan, Pusri sangat fokus dalam pengembangan bisnis pupuk NPK ini, khususnya di wilayah Sumatera Selatan yang dikenal memiliki areal perkebunan jutaan hektare.

Baca juga: Pusri targetkan pabrik NPK operasional pada 2020

Peluang bisnis ini sangat menjanjikan, apalagi pasokan domestik masih kekurangan 3,9 juta ton dari total kebutuhan nasional 11,1 juta ton.

Bukan hanya untuk membantu ketahanan pangan di daerah tersebut, kehadiran pupuk NPK ini menjadi kebutuhan masa kini mengingat seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan sejatinya tanaman juga membutuhkan pupuk majemuk.

“Jika itu tanaman buah-buahan maka buahnya akan lebat dan bagus,” kata dia.

Terkait bisnis pupuk urea ini, Pusri saat ini sedang menguji coba pabrik NPK II dengan kapasitas 200.000 ton per tahun sehingga dapat memproduksi 300.000 ton per tahun jika digabungkan dengan pabrik sebelumnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Seman Baturaja Jobi Triananda Hasjim mengatakan, sinergi dari BUMN ini sejalan dengan upaya untuk menekan harga pokok produksi.

“Seperti halnya Pusri, kami pun dituntut untuk menekan biaya produksi agar produk semen kami lebih murah yang nantinya dinikmati oleh konsumen,” kata dia.

Ia mengatakan, saat ini Semen Baturaja berinovasi dalam menciptakan produk-produk turunan. Bukannya membuat white clay yang saat ini dimanfaatkan PT Pusri untuk membuat pupuk NPK, BUMN yang sudah berdiri sejak 40 tahun lalu ini juga membuat mortar (bahan perekat batu bata), batu bata ringan dan beton porous.

“Inovasi ini sangat penting, karena saat ini bisnis semen tidak mudah karena di dalam negeri saja ada kelebihan suplai sekitar 30 persen dibandingkan permintaan,” ujar dia.