Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD menegaskan jika masih ada nelayan China yang membandel masuk wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di Perairan Natuna, Kepulauan Riau, pasti akan diusir.

"Kita usir saja, kan protesnya sudah. Masa protes terus. Kita usir saja, kita halau, dan mereka keluar dari garis ZEE agar mereka tidak berada lagi di Natuna sehingga di laut bebas," katanya di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis malam.

Baca juga: Susi Pudjiastuti minta pemerintah tegakkan hukum bagi pencuri ikan

Baca juga: Susi ingin Edhy Prabowo bangun 10 politeknik per tahun


Baca juga: Menteri KKP dipanggil Presiden bahas perikanan

Pada hari yang sama, Mahfud juga menerima kunjungan Duta Besar China untuk Indonesia Xiao Qian di Kantor Kemenko Polhukam RI.

Mahfud menjelaskan pada pertemuan tersebut Dubes China juga menyampaikan sudah tidak ada "dispute" soal wilayah dan konflik dengan Indonesia.

"Sikap pemerintah pun jelas, yakni akan tetap menjaga kedaulatan dan hak berdaulat. Ada dua hal, ya, kalau di ZEE itu namanya hak berdaulat. Kalau di wilayah teritori itu wilayah kedaulatan. Kami akan jaga kedua-duanya," katanya.

Diakui Mahfud, Pemerintah China tidak bisa memberikan jaminan bahwa nelayan mereka tidak akan masuk lagi ke wilayah ZEE karena tidak mungkin untuk melarang melaut.

"Ya, kami katakan, kita akan usir. Jadi, tidak ada jaminan apa-apa. Sudah punya sikap masing-masing," katanya.

Baca juga: Hikmahanto: Perkuat peran kapal "coast guard" Indonesia di Natuna

Baca juga: Gantikan Susi, Edhy Prabowo diminta lanjutkan berantas IUU Fishing


Dalam pertemuan itu, mereka juga membahas rencana pertemuan antarpejabat tinggi pada 4 Februari 2020, termasuk rencana kerja sama di banyak bidang.

"Nah, kerja sama di bidang lain yang jauh lebih banyak itu, ya, diteruskan. Tetapi, tidak akan bicara tentang Natuna Utara atau Laut Cina Selatan. Karena di situ kita berpendapat tidak ada 'despute'," tegas Mahfud.

Sementara itu, Dubes China untuk Indonesia Xiao Qian menyampaikan pertemuan itu membicarakan banyak hal, mulai kerja sama investasi, perdagangan, hingga kebudayaan yang selama ini sudah terjalin.

Xiao menyebut Indonesia dan China sebagai teman yang sangat baik, apalagi berbagai progres kerja sama selama lima tahun kepemimpinan Presiden RI Joko Widodo dan Presiden China Xi Jinping.

Meski berteman sangat baik, diakuinya, masing-masing mungkin memiliki cara pandang yang berbeda terhadap sesuatu sehingga memunculkan perselisihan.

Akan tetapi, Xiao menilainya perselisihan yang muncul bukan sebagai permasalahan, sebab bisa diselesaikan melalui jalan diskusi dan dialog untuk mencari solusi bersama.

Baca juga: Susi Pudjiastuti banjir pujian dari masyarakat

Baca juga: Pengamat sebut China sengaja pancing Indonesia kerahkan kapal perang

Baca juga: Susi Pudjiastuti: Edhy Prabowo sudah kenal KKP