Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan menyiapkan asuransi bagi pembudidaya ikan kecil dalam rangka mengatasi dampak banjir yang cukup parah akibat meningkatnya curah hujan di sejumlah lokasi selama beberapa waktu terakhir ini.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, di Jakarta, Rabu, mengatakan curah hujan yang tinggi juga bisa berdampak terhadap aktivitas usaha budidaya ikan di berbagai daerah di Indonesia.

"Kita bisa analisa dari tren kejadian lima tahun terakhir, bahwa faktanya banyak usaha pembudidayaan yang terdampak banjir dan nilai kerugiannya besar. Apalagi berdasarkan tren data BMKG, curah hujan saat ini merupakan yang tertinggi dalam 150 tahun terakhir. Tentu, kita tidak berharap kejadian tersebut terulang, namun langkah antisipatif perlu kita dorong," jelas Slamet.

KKP juga mengingatkan bahwa menurut data, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) diprediksi cuaca ekstrim masih akan berlanjut hingga beberapa pekan ke depan. Karena itu, Slamet mengimbau kepada seluruh pelaku usaha budidaya untuk mempersiapkan upaya mitigasi sejak dini.

Bagi kawasan yang menjadi langganan banjir, dia berharap untuk melakukan berbagai upaya untuk meminimalisasi dampak kerugian ekonomi, misalnya dengan memanen lebih awal jenis ikan yang dibudidayakan.

KKP, lanjutnya, juga akan memfasilitasi realisasi asuransi bagi pembudidaya ikan kecil terdampak, sebagai upaya membantu meringankan dampak kerugian ekonomi akibat bencana alam.

"Ini diperuntukkan bagi pembudidaya ikan kecil yang terdampak bencana seperti banjir, tanah longsor dan lainnya. Oleh karenanya saya menghimbau kepada dinas terkait untuk segera mendata para pembudidaya yang mengalami kegagalan produksi akibat bencana. Nanti datanya kirim ke kami agar segera ditindaklanjuti," jelasnya.

Slamet menambahkan, asuransi bagi pembudidaya ikan kecil ini jangkauan objeknya telah diperluas. Jika semula hanya diperuntukkan bagi usaha budidaya udang, saat ini diperluas untuk usaha budidaya ikan lain seperti bandeng, patin dan budidaya ikan tawar lainnya.

"Kita tahu pembudidaya selain udang, masih didominasi oleh pembudidaya ikan kecil. Di sisi lain, pembudidaya ikan kecil ini sulit bangkit pasca kerugian akibat kegagalan produksi. Oleh karena itu, asuransi ini diharapkan akan meminimalisir dampak kerugian ekonomi dan menstimulan agar usaha budidaya kembali dilakukan," ucap Dirjen Perikanan Budidaya.

Data yang dihimpun KKP, hingga tahun 2019 bantuan pembayaran premi asuransi perikanan bagi pembudidaya ikan kecil yang terealisasi sebesar Rp7,3 miliar untuk mengcover luas lahan budidaya seluas 20.837,44 hektare dengan jumlah pembudidaya mencapai 15.026 orang.

Sedangkan tahun 2020 target realisasi asuransi dapat mencakup 5.000 hektare lahan usaha pembudidayaan baru, sehingga akan lebih banyak pembudidaya ikan yang dapat merasakan manfaat asuransi. Adapun anggaran untuk bantuan pembayaran premi asuransi sebesar Rp3 miliar.

Nilai maksimum pertanggungan untuk komoditas udang/polikultur sebesar Rp7,5 juta per hektar/tahun, ikan patin per tahunnya sebesar Rp3 juta per 250 m2, nila tawar dan lele maksimum pertanggungan sebesar Rp4,5 juta per 200 meter persegi/tahun. Sedangkan untuk nila payau nilai pertanggungan maksimum sebesar Rp5 juta/hektare/tahun. Komoditas lainnya yaitu bandeng maksimum pertanggungan per tahunnya sebesar Rp3 juta/hektare.

Baca juga: KKP minta pengusaha patuhi asuransi nelayan bagi ABK
Baca juga: OJK-KKP luncurkan asuransi perikanan