Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia yang juga Bupati Banyuwangi Abdulllah Azwar Anas memaparkan sejumlah strategi tak lazim alias anti-mainstream untuk mengembangkan daerah dalam pemaparan evaluasi kinerja pelayanan publik yang digelar Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB).

Dalam acara yang dihadiri Menpan-RB Tjahjo Kumolo dan lebih dari 400 perwakilan daerah se-Indonesia itu, Anas memaparkan pentingnya langkah terobosan bagi pemerintah daerah.

“Saya kira pertama, harus menegakkan disiplin,” kata Anas saat diwawancarai wartawan di Jakarta, Jumat.

Ia memberi contoh dalam pelayanan terhadap orang miskin, akan ada sanksi jika ada keterlambatan respon pengaduan lebih dari empat jam oleh Camat dan pejabat seterusnya.

“Kami kasih waktu maksimal empat jam dan sampai matahari terbenam istilah saya. Bagi mereka yang tidak memenuhi target, besoknya akan langsung kami beri tindakan misalnya kami mutasi,” ujar Anas.

Ia mengungkapkan kalau itu sudah pernah terjadi di beberapa tempat. Oleh karena itu, Anas mengimbau kepada jajarannya untuk tidak teledor dalam melakukan pelayanan publik.

Baca juga: Tjahjo puji Kabupaten Banyuwangi saat penganugerahan pelayanan publik

Baca juga: Polres Cilacap raih penghargaan pelayanan publik kategori sangat baik

Baca juga: Kemenpan RB beri penghargaan penyelenggara pelayanan publik terbaik



Anas mengatakan birokrasi harus terus didorong untuk mempunyai komitmen agar budaya melayani itu terus diperkuat.

“Saya kira mereka harus memberikan keteladanan sehingga aparatur negara di bawah lebih disiplin melakukan pelayanan,” ujar Anas.

Resep kedua agar bisa terus meningkatkan pelayanan publik adalah dengan memperkuat instrumen Informasi dan Teknologi.

Ia mengingatkan kalau ke depan digitalisasi pelayanan itu menjadi sesuatu yang penting di tengah kebijakan pemerintah mengurangi aparatur sipil negara.

“Antara Sumber Daya Manusia dan teknologi itu ke depan akan kami perkuat,” kata Anas.

Banyuwangi yang dulu dikenal dengan citra klenik, kini menuju daerah dengan pelayanan publik berbasis digital. Sebanyak 189 desa sudah teraliri fiber optic untuk menunjang pelayanan publik.

"Di banyak desa sudah dikembangkan self service di mana warga kampung saat mengurus dokumen tidak perlu bertemu petugas," papar Anas.

Anas juga memaparkan inovasi terbaru di Banyuwangi, yaitu "One Student One Client" di mana satu mahasiswa jurusan kesehatan mendampingi satu ibu hamil. Para mahasiswa itu diajak mendampingi ibu hamil berisiko tinggi untuk memantau kesehatan dan asupan gizinya.

Anas mencontohkan jurus kreatif lainnya, seperti "semakin misteri semakin diminati" pada Taman Nasional Alas Purwo. Selain dikenal sebagai taman nasional yang telah ditetapkan sebagai cagar biosfer dunia, Alas Purwo juga kaya akan kearifan lokal nilai-nilai leluhur.

"Berkat sejumlah kemasan, tingkat kunjungan ke Alas Purwo melonjak pesat, bahkan 2018 lalu dikunjungi lebih dari 211.000 orang," ujar Anas.

Karena beragam inovasi itulah, Kementerian Dalam Negeri dua tahun berturut-turut pada 2018 dan 2019 menempatkan Banyuwangi sebagai Kabupaten Terinovatif peringkat pertama dari kabupaten seluruh Indonesia.