Padang (ANTARA) - Di sebuah kota kecil bernama Payakumbuh, sekitar 180 kilometer sebelah utara pusat pemerintah Provinsi Sumatera Barat, pasar tradisional masih menjadi
idola bagi emak-emak, terutama untuk keperluan dapur.

Selain harga yang relatif lebih murah dari pada di kedai, apalagi jika dibandingkan di mal, emak-emak itu juga bisa menawar harga sepuas hati, tanpa ada
yang keberatan. Interaksi sosial itu menjadi sesuatu yang penting bagi mereka yang sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah.

Bahkan kondisi jalan di pasar yang becek karena sebelumnya hujan lebat, tidak menyurutkan keinginan emak-emak itu untuk mencari keperluan dapur ke
pasar.

Pasar itu bernama Pasar Ibuah. Berdiri sekitar tahun 1990-an dan mendapatkan predikat sebagai satu-satunya pasar tradisional berstandar nasional (SNI) di
Sumatera. Predikat itu diberikan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) pada 5 Desember 2018.

Pasar tradisional itu tidak hanya menjadi "pusat perbelanjaan" bagi emak-emak di Kota Payakumbuh saja. Orang-orang dari Kabupaten Limapuluh Kota,
Tanah Datar, bahkan perbatasan Riau, juga berbelanja di sana.

Orang yang datang dari jauh itu biasanya adalah pedagang asongan. Pedagang garendong dalam bahasa daerah setempat. Mereka membeli keperluan
dapur di Pasar Ibuh pada subuh, memenuhi keranjang yang telah dimodifikasi di sepeda motornya, kemudian berjualan hingga jauh ke pelosok, ke
perbatasan Riau.

Pemerintah Kota (Pemkot) Payakumbuh mengklaim perputaran uang di Pasar Ibuh setiap pagi sekitar Rp2,5 hingga Rp5 miliar.

Peluang itulah yang ditangkap oleh Payo App, sebuah usaha mikro yang saat ini fokus bergerak dalam jasa kurir di Payakumbuh, sehingga lebih dikenal
dengan nama Payo Kurir.

Sang pendiri Rifki Payobadar mengatakan usaha yang dirintisnya sejak 2017 itu terinspirasi dari konsep terminal agribisnis dari Wali Kota Payakumbuh saat
itu yaitu Riza Falepi. Intinya, terminal itu menjadi tempat berkumpulnya seluruh produk dari petani yang bisa diakses langsung baik oleh masyarakat maupun
pedagang.

Konsep itu memutus rantai distribusi sehingga harga dari petani tidak terlalu jauh bedanya dengan harga yang sampai ke konsumen, sehingga petani sebagai
produsen tetap dapat untung, sementara masyarakat sebagai konsumen mendapatkan harga yang cukup murah.

"Bedanya, konsep Wali Kota Riza Falepi itu pasar dalam bentuk fisik dan hanya terbatas pada produk agro atau pertanian, maka Payo App memindahkannya
dalam bentuk online (daring) dengan produk lebih luas," ujarnya.

Payo App menyediakan katalog produk kuliner dari 500 lebih UMKM mitra di Payakumbuh dalam aplikasinya. Adapula katalog keperluan dapur seperti
sayur mayur, bumbu dapur, daging, ikan dan beragam kebutuhan lain yang bisa dipilih konsumen yang rata-rata adalah emak-emak.

Konsumen bisa memesan produk-produk itu kepada admin melalui layanan WhatsApps (WA). Admin menjadi elemen penting yang dipertahankan, untuk
menjaga adanya interaksi sosial antara konsumen dengan Payo App. Nantinya, produk yang telah dipesan konsumen akan diantarkan langsung ke alamat
oleh Payo Kurir dengan menambahkan biaya jasa pengiriman.

Setelah dua tahun berjalan, Payo App mulai dikenal oleh masyarakat Payakumbuh dan sekitarnya dengan jumlah konsumen terus meningkat setiap bulan
meski dengan grafik yang masih "landai".

Setidaknya saat ini menurut Manager Operasional Payo Ap, Roni Mayori, telah ada 1.000 orang konsumen yang aktif, dalam artian memesan produk secara
berulang atau berlangganan.

Untuk melayani permintaan yang makin banyak itu, Payo App menambah armada pada sub-bidang bisnisnya di Payo Kurir. Jumlah mitra pengemudi yang
berposisi sebagai kurir dari awalnya hanya empat orang, sekarang telah berkembang menjadi 20 orang.

Payo App sengaja membatasi jumlah mitra kurir agar pemasukan mereka bisa mencukupi untuk keperluan sehari-hari. "Sebenarnya jumlah kurir bisa
ditambah dan telah banyak yang berminat. Namun kita mempertimbangkan pendapatan dari kurir yang telah ada. Kalau ditambah lagi, pendapatan mereka
pasti berkurang," ujar Roni.

Setiap kurir rata-rata menerima 10-15 pesanan setiap hari dengan bagi hasil sekitar Rp10.000 untuk masing-masing transaksi. Artinya dalam sehari mereka
bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp100-150 ribu. Sementara bagi hasil untuk perusahaan disetorkan sekali tiga hari. Itulah yang menjadi biaya operasional Payo App.
Aplikasi Payo App sedang dibangun untuk kemudahan akses. (ANTARA/Miko Elfisha)



Bersaing dengan Raksasa

Pendiri Payo App Rifki Payobadar bercerita usaha itu awalnya berdiri pada 2016 oleh salah seorang pengusaha di Payakumbuh. Namun karena pengusaha
tersebut memiliki cabang usaha yang banyak, Payo App yang saat itu bernama Payo Kurir tidak berkembang, sehingga diputuskan untuk dilepas pada 2017.

Rifki yang memiliki konsep serupa dan tengah berupaya membangun jaringan dan ekosistem usaha swalayanku.com tertarik untuk mengakuisisi Payo Kurir.
Ia kemudian mengimplementasikan ide-idenya yang semula untuk swalayanku.com ke dalam Payo Kurir yang kemudian ia ganti namanya menjadi Payo
App.

"Payo Kurir telah memiliki pondasi dan infrastruktur sehingga lebih mudah untuk berjalan dengan konsep swalayanku.com. Keduanya jadi klop," kata Rifki.

Setelah mengganti nama menjadi Payo App, ia tetap mempertahankan nama Payo Kurir sebagai sub-bidang usaha. Hal itu dengan pertimbangan Payo Kurir
telah lebih dulu dikenal masyarakat.

Raksasa Gojek baru masuk ke Payakumbuh sekitar pertengahan 2018. Satu setengah tahun setelah Rifki mengembangkan usaha Payo App. Kehadiran
usaha yang telah menjadi unicorn itu diakui "mengguncang" pasar yang telah dibangun Payo App.

Rifki memperkirakan lebih dari 30 persen konsumennya langsung berpindah ke layanan Gojek. Apalagi saat baru masuk ke Payakumbuh, unicorn itu
memberikan promo besar-besaran.

Namun secara berangsur-angsur, pasar kembali pulih dan konsumen Payo App kembali tumbuh meski tidak besar. Bahkan, raksasa digital itu secara tidak
langsung memberikan dampak positif pada Payo App, terutama dalam menciptakan ekosistem masyarakat yang "melek" teknologi belanja daring.

Rifki mengakui meski sampai sekarang belum mereguk keuntungan, tetapi usaha itu sudah bisa memutar sistemnya secara mandiri. Artinya untuk sewa
kantor, gaji lima orang staf, dan bagi hasil dengan mitra, telah berjalan dengan baik.

Kini Rifki antusias menatap masa depan. Meski usaha yang dikembangkannya masih kecil dan seumur jagung, ia meyakini ada cahaya kesuksesan yang
menunggu di depan sana. Ia yakin perusahaan lokal, perusahaan urang awak masih mendapat tempat di hati masyarakat setempat, bersanding dengan
"raksasa-raksasa" global yang juga telah mengembangkan sayap hingga ke pelosok.

Untuk merealisasikan mimpi itu, ia telah merancang upaya ekspansi ke kota-kota lain di Sumatera Barat. Aplikasi yang bisa diunduh di Playstore juga sudah
disiapkan. Payo App, nanti tidak hanya untuk emak-emak Payakumbuh, tetapi juga akan jadi pujaan emak-emak Ranah Minang.