Jakarta (ANTARA) - Sektor properti di tanah air dalam beberapa tahun belakangan dinilai mengalami perlambatan sehingga pelaku industri di bidang tersebut dituntut melakukan inovasi terutama dalam pemasaran.

CEO SQM Property Denny Asalim di Jakarta, Jumat mengatakan, bisnis properti melemah dari tahun ke tahun, ketika penjualan properti semakin sulit, untuk memastikan penjualan properti tetap bisa dijalankan maka pengeluaran dari segi promosi juga akan bertambah.

"Penambahan biaya promosi tersebut tentunya selain mengurangi margin keuntungan pengembang, juga berakibat ke harga jual yang dibebankan ke konsumen akan lebih tinggi untuk mengimbangi biaya yang terus bertambah," katanya.

Baca juga: UMP 2020 naik, beri ruang masyarakat untuk beli rumah

Di sisi lain, lanjutnya, seiring dengan perlambatan industri properti, para pelaku properti terus berkurang, terutama broker properti dikarenakan sengitnya persaingan, penjualan yang semakin susah dan susahnya mendapat tenaga pemasaran baru yang kompeten.

Terkait hal itu, menurut dia, sebagai perusahaan start-up di bidang PropTech (Property Technology) melakukan inovasi pemasaran properti melalui aplikasi digital untuk mengatasi hambatan sebagai dampak melambatnya industri porperti nasional.

"Tujuan kami membangun aplikasi SQM Property karena kita bisa mengubah cara pemasaran properti. Karena kalau dilihat dari segi teknologi, platform ini berbentuk crowdsourcing yang mempertemukan penjual dan pembeli melalui sistem referensi," kata Denny.

Baca juga: Konsultan: Peningkatan pasar properti Jakarta diprediksi gradual

Terkait kemungkinan munculnya SQM Property akanmendisruptif para pemain atau broker properti yang sudah ada, Denny mengatakan platform pemasaran tersebut untuk memberikan solusi bagi para principal dan broker serta menjadikan mereka bisa bersaing di era digital ini dengan kekuatan teknologi.

Sebelum meluncur secara resmi ke publik, aplikasi SQM Property melalui Beta stage testing selama 3 bulan berhasil menggaet lebih dari 2.500 member yang bergabung, lanjutnya, dari 2.500 user ini, mereka telah berhasil melakukan referensi sebanyak 1.700 calon pembeli properti.

“Ini menunjukkan respons masyarakat sangat positif dan model bisnis serta teknologi ini mampu menjawab kebutuhan pasar," katanya.