Ambon (ANTARA) - PT Pertamina Marketing Operational Regional (MOR) VIII merealisasikan 51 titik bahan bakar minyak (BBM) Satu Harga di Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat pada 2019.

General Manager PT Pertamina MOR VIII Maluku Papua, Gema Iriandus Pahalawan di Ambon, Jumat, mengatakan 51 titik BBM Satu Harga itu sesuai target pemerintah pusat untuk wilayah Maluku dan Papua.

Ia menyatakan, realisasi 51 titik BBM Satu Harga merupakan strategi untuk menurunkan harga BBM yang selama ini di banyak tempat masih tinggi.

"Harga BBM saat ini masih tinggi yakni dijual dengan kisaran harga Rp10 ribu hingga Rp30 ribu per liter, karena itu kami berupaya menstabilkan harga," ujarnya.

Baca juga: Pertamina klaim laba triwulan III/2019 753 juta dolar

Upaya menstabilkan harga kata Gema melalui pengoperasian lembaga penyalur yang terbagi dalam empat tipe yakni APMS atau SPBU kompak, SPBU mini, reguler dan SPBU modular.

"Semua disesuaikan wilayah khususnya yang belum terjangkau akses transportasi, yakni pemerintah menyiapkan sub agen yang harga penjualan diatur oleh pemerintah," ujarnya.

Di Maluku dan Papua luas lahannya sepertiga dari Indonesia, tetapi jumlah lembaga penyalur masih sedikit dibandingkan wilayah lain terutama di Pulau Jawa.

"Karena itu kami berupaya menggenjot lembaga penyalur, karena semakin banyak lembaga penyalur maka secara langsung harga akan semakin manusiawi dan sama dengan wilayah lain di Indonesia, " katanya.

Diakuinya, salah satu upaya yang dilakukan Pertamina MOR VIII yakni penambahan tangki timbun BBM di Maluku yakni di TBBM Wayame serta di TBBM Sorong.

"Di satu daerah yang luas wilayah dan pulau yang terpisah, jika dilakukan penambahan titik layanan, otomatis harga yang tersebar merata, " kata Gema.
Baca juga: Empat capaian terbesar sektor energi era Jokowi