Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan suhu panas sudah menurun seiring dengan pertumbuhan awan hujan yang dapat menghalangi paparan sinar Matahari.

"Kalau kondisi panas seperti yang terjadi beberapa minggu yang lalu di mana kondisinya ada yang sampai 39,6 derajat Celsius, itu diprediksikan kemungkinannya sangat kecil," kata Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Miming Saepudin dalam konferensi pers di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta Timur, Kamis.

Ia mengatakan berdasarkan pantauan BMKG suhu di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) berkisar 35 sampai 37 derajat Celsius.

Suhu tersebut, katanya, sudah masuk kategori normal.

Suhu maksimum di luar Jawa tercatat di bawah 35 sampai 37 derajat Celsius, yaitu berkisar 33 hingga 34 derajat Celsius.

Baca juga: BMKG ingatkan potensi gangguan kesehatan akibat pancaroba

Suhu panas tersebut, katanya, merupakan kejadian siklus setiap tahun.

Suhu panas, kata dia, biasanya terjadi karena posisi Matahari. Pada Juli hingga Oktober titik kulminasi Matahari masih maksimum di wilayah Jawa.

Pada kondisi tersebut, cuaca pada umumnya cerah karena tidak ada awan yang menghalangi Matahari. Hal itu menyebabkan suhu menjadi panas.

Namun demikian, BMKG memprediksikan awan sudah mulai signifikan pada awal November sehingga dapat menurunkan pancaran Matahari ke permukaan Bumi.

Terkait dengan musim kemarau, ia mengatakan puncak musim kemarau sudah terjadi pada Juni, Juli, dan Agustus.

Namun, untuk wilayah Jawa kekeringan masih cukup signifikan karena awal musim hujan diprediksi mundur hingga pertengahan November.

Baca juga: BMKG ingatkan peningkatan intensitas hujan di Jateng November
Baca juga: BMKG: Sebagian daerah Jatim masuki masa peralihan musim
Baca juga: Sekolah Lapang Iklim jangkau sekitar 9.000 peserta di 33 provinsi