Washington (ANTARA) - Amerika Serikat berkomitmen memperkuat posisi militernya di Suriah melalui penambahan aset untuk mencegah ladang minyak diambil alih oleh ISIS atau kelompok lainnya yang tersisa, kata pejabat pertahanan AS, Kamis.

Pejabat, yang meminta identitasnya dirahasiakan, tidak mengungkapkan aset militer apa yang sedang dipertimbangkan.

Pernyataan itu menjadi sinyal paling jelas bahwa AS tidak hanya menghentikan rencana sekarang atas penarikan penuh dari Suriah tetapi mungkin menambah sejumlah kemampuan baru untuk memperkuat pasukan Amerika yang masih berada di negara tersebut.

"Salah satu perolehan paling signifikan oleh AS dan mitra kami dalam memerangi ISIS adalah mengambil kendali ladang minyak di Suriah timur - sumber pendapatan utama bagi ISIS," kata pejabat pertahanan itu.
Pasukan Amerika Serikat dan Turki melakukan patroli gabungan di dalam area mekanisme keamanan di Suriah timur laut, Minggu (8/9/2019). Foto diambil tanggal 8 September 2019. ANTARA/via REUTERS/Handout /tm

"Kita harus memutus aliran pendapatan ISIS ini guna memastikan mereka tidak akan bangkit lagi."

Pejabat lainnya, yang juga keberatan identitasnya diungkap, menyebutkan Menteri Pertahanan AS Mark Esper dan Jenderal Angkatan Darat Mark Milley, ketua Kepala Staf Gabungan, "terus menyiapkan opsi untuk diajukan kepada presiden."

Di tengah kekhawatiran bahwa ISIS dapat bangkit kembali, Trump pada Rabu (23/10) mengatakan bahwa sejumlah kecil pasukan AS akan tetap berada di daerah Suriah "yang ada minyak," mengacu pada ladang minyak di wilayah yang dikuasai Kurdi.

Sumber: Reuters

Baca juga: Trump: Gencatan senjata Turki di Suriah Utara permanen

Baca juga: AS siap hancurkan ekonomi Turki jika pihaknya terus lakukan serangan

Baca juga: Trump berharap jadi mediator Turki-Kurdi


Putra Donald Trump ungkap alasan bangun resor ultra mewah di Lido