Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Pengusaha yang sekaligus mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno menyatakan bahwa dipilihnya Prabowo Subianto menjadi Menteri Pertahanan, dinilai sebagai sinyal persatuan Indonesia.

"Pak Prabowo memberikan sinyal persatuan. Semua sudah selesai, kontestasi selesai," kata Sandiaga, di Kota Malang, Jawa Timur, Kamis.

Sandiaga menambahkan, Prabowo selalu memberikan tiga pesan kepada dirinya dan masyarakat Indonesia, yakni untuk selalu mencintai Republik Indonesia, jangan menengok ke belakang, dan rakyat Indonesia jangan terpecah belah.

Sebagai catatan, pada Pemilu serentak 17 April 2019, Prabowo Subianto merupakan pasangan nomor urut 02 bersama Sandiaga Uno yang berkontestasi pada pemilihan presiden dan wakil presiden.

"Mudah-mudahan bisa diterima seluruh rakyat di pelosok nusantara, agar kita bisa menjadi negara maju," kata Sandiaga.

Saat ini, Prabowo masih menjabat sebagai Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan sekaligus menjadi Menteri Pertahanan. Sandiaga menilai, hal itu merupakan hak prerogratif Presiden Joko Widodo.

"Itu hak prerogratif presiden, saya ucapkan selamat," ujar Sandiaga.

Baca juga: Sandiaga: Pidato Jokowi harapan bagi bangsa tumbuh lebih tinggi

Baca juga: Sandiaga Uno harapkan ada inovasi pada sektor pendidikan

Baca juga: Sandiaga Uno siap beri masukan pada Kabinet Indonesia Maju


Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin menunjuk Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menjadi Menteri Pertahanan periode 2019-2024. Penunjukan tersebut diumumkan Presiden di tangga Istana Merdeka, Rabu (23/10).

Pada kabinet Indonesia Maju, terdiri dari 34 menteri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 18 kursi diisi dari kalangan profesional non-parpol, dan 16 kursi lainnya diisi oleh sosok berlatar belakang dari partai politik koalisi.

Sejumlah nama yang masuk dalam kategori profesional non-parpol antara lain adalah, Mahfud MD, Luhut Binsar Pandjaitan, Sri Mulyani Indrawati, Basuki Hadimuljono, Nadiem Makarim, Wishnutama Subandio, dan Erick Thohir.

Sementara para menteri yang berlatar belakang dari partai politik, antara lain adalah, Yasonna Laoly dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Syahrul Yasin Limpo dari Partai NasDem.