Trenggalek, Jatim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur mengonfirmasi saat ini sudah ada dua kandidat investor yang siap menggelontorkan dana investasi untuk pengembangan kawasan wisata di pesisir Pantai Mutiara dan kawasan hutan mangrove, Pantai Cengkrong.

"Sementara ini sudah ada tiga potensi wisata yang dibidik, yakni Hotel Glamping Resort di Pantai Mutiara, Glamping Resort di Pantai Cengkrong dan Edukasi Hotel di Prigi Hotel," kata Kabag Protokol dan Rumah Tangga Setda Trenggalek Triadi Atmono di Trenggalek, Senin.

Dua investor yang sudah melangkah melakukan penjajakan kerjasama itu adalah PT. Neo Sinergi Indonesia (NSI) dan PT Sinergi Wisata Abadi (SWA).

Baca juga: Investor puji konsep investasi yang ditawarkan Pemkab Trenggalek

Kedua perwakilan perusahaan itu bahkan sudah datang ke Trenggalek dan berkunjung untuk ke empat kalinya demi memantapkan rencana kerjasama yang ingin dibangun.

"Ini tindak lanjut dari nota kesepakatan bersama yang sudah dibuat antara Pemkab Trenggalek dengan PT. Neo Sinergi Indonesia (NSI). Dari nota kesepakatan tersebut kita siapkan perjanjian kerjasama," kata Direktur Utama PT. SWA, Hence Alfi Pongoh.
Bupati Trenggalek Moch Nur Arifin (kiri) berbincang dengan perwakilan PT NSI dan PT SWA di tepi Pantai Mutiara, Trenggalek. (IST/foto Humas Trenggalek)


Disebutkan, ada tiga lokasi yang diharapkan bisa dikerjasamakan, yaitu pengembangan Hotel Resort Glamping di Pantai Mutiara, Glamping Resort di Mangrove Cengkrong dan pengelolaan Hotel Prigi sebagai Edukasi Hotel (Edutel).

Baca juga: 51 pecinta olahraga kayak eksplorasi pantai Trenggalek

"Kami memaparkan konsep desain yang kami coba kami tawarkan dan kelihatannya beliau Pak Bupati tertaik dengan konsep kami," kata Hence Alfi menambahkan.

Dijelaskan, keterlibatan PT. Sinergi Wisata Abadi (SWA) dimaksudkan untuk digandeng dalam mendesain konsep pengembangan pariwisata, membangun dan mengelola konsep ini nantinya.

"Tahap awal yang akan dibangun adalah hotel glamping resort di Pantai Mutiara. Totalnya ada tujuh unit yang akan dibangun dan satu bangunan kafe resto. Memang sedikit yang dibangun karena memang lokasinya tidak begitu luas dengan estimasi biaya sebesar Rp. 1 miliar," jelas Hence Alfi.

Bangunannya berbahan kayu dan bambu yang banyak ada di Trenggalek, karena konsepnya memang 'ecotourism' dan lokasinya berada di daerah hutan milik Perhutani sehingga bangunan yang diterapkan tidak boleh permanen harus bersifat semi permanen.

Hence menambahkan, finalisasi konsep rencananya dilaksanakan sekitar November-Desember.

Sedangkan groundbreaking dilaksanakan pada Januari. Namun rupanya Bupati Trenggalek Moch Nur arifin ingin "groundbreaking" dipercepat sekitar November Desember.