Jakarta (ANTARA) - Lima tahun bagi sebagian orang boleh jadi tidak cukup lama untuk menyulap sesuatu menjadi lebih bernilai.

Namun nyatanya sinergi bersama mampu mewujudkan pariwisata menjadi sektor unggulan yang kian terbukti besar kontribusinya bagi pendapatan negara dalam kurun waktu lima tahun.

Di bawah kepemimpinan Menteri Pariwisata Arief Yahya, pariwisata dibawa ke arah konsep Indonesia Incorporated dengan citra yang semakin berdaya saing tinggi.

Faktanya, beberapa konsep dan pemikiran mantan Dirut Telkom itu telah mampu mengubah orientasi dan paradigma pariwisata yang kuno menjadi kekinian dan mampu melakukan lompatan inovasi yang keren.

Tercatat dalam lima tahun terakhir sektor pariwisata Indonesia mampu menyumbangkan devisa yang terus meningkat signifikan.

Sumbangan devisa dari sektor pariwisata meningkat dari 12,2 miliar dolar AS pada 2015, menjadi 13,6 miliar dolar AS di 2016, dan naik lagi menjadi 15 miliar dolar AS pada 2017. Pada 2018 ditargetkan meraup devisa 17 miliar dolar AS serta pada 2019 ditargetkan menjadi penyumbang devisa nomor 1 mengalahkan sektor perekonomian lain dengan proyeksi nilai sebesar 20 miliar dolar AS.

Baca juga: Pariwisata diproyeksikan jadi penyumbang devisa terbesar
Baca juga: Menpar optimistis devisa pariwisata 2019 capai 20 miliar dolar

Sejumlah personil Grup Gorontalo Inovasi membawakan tarian dan nyanyian pada kegiatan Celebes Tourism Meeting di Kota Gorontalo, Gorontalo, Sabtu (5/10/2019). Kegiatan yang dihadiri oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya tersebut merupakan forum silaturahmi dan sinergi program pemerintah daerah, pusat dan kabupaten serta kota dalam mendorong sektor pariwisata. ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin/hp.
Sementara kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) naik siginifikan dari 2015 – 2017. Tahun 2015 sebanyak 10,41 juta, tahun 2016 menjadi 12,01 juta, dan tahun 2017 sebanyak 14,04 juta. Sampai Agustus 2018, jumlah wisman mencapai 10,58 juta. Wisatawan nusantara juga terus naik. Sejak tahun 2015 sebanyak 256 juta, tahun 2016 meningkat menjadi 264,33 juta, dan tahun 2017 menjadi 270,82 juta.

World Travel & Tourism Council (WTTC) bahkan menempatkan Indonesia di posisi sembilan, negara dengan pertumbuhan wisman tercepat di dunia nomor tiga di Asia dan nomor satu di Asia Tenggara.

“Kunjungan wisman ke Indonesia tumbuh 22 persen atau tiga kali lipat dibandingkan rata-rata pertumbuhan di kawasan regional Asia Tenggara sebesar 7 persen bahkan pertumbuhan pariwisata dunia sebesar 6 persen,” kata Arief Yahya.

Banyaknya penghargaan yang diraih pariwisata Indonesia di tingkat regional maupun internasional menunjukkan bahwa daya saing pariwisata Indonesia semakin diperhitungkan di level global.

"Perolehan penghargaan ini menjadi momentum untuk memacu kinerja kita dalam mencapai target 20 juta wisman tahun 2019," kata Arief Yahya.

Pada semester pertama 2019 beberapa penghargaan telah diperoleh Indonesia dalam berbagai ajang antara lain ASEAN Tourism Award 2019, Reisgaarg Award, on Vakantiebeurs, Netherlands Documentations 2019, dan Outbound Travel Mart (OTM) 2019.

Selain itu penghargaan diperoleh dari ajang East Mediterranean International Tourism & Travel Exhibition (EMITT) 2019, Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019, Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) Award 2019, Asia Dive Expo 2019, Tour Film Fest Bulgaria 2019, WTTC Award 2019, ASEANTA AWARD 2019, dan China Traveler's Top Spot Award.
Baca juga: Labuan Bajo dapat award tujuan wisata terfavorit internasional
Baca juga: Indonesia raih Gold Award di pameran pariwisata Namibia Tourism Expo

BKPM Nilai Sektor Pariwisata Paling Cepat Untuk Dikembangkan


Puas

Sebagai nakhoda dalam memajukan sektor pariwisata Tanah Air, Arief Yahya mengaku puas dengan pencapaian dunia pariwisata Indonesia meskipun ada beberapa pekerjaan rumah yang masih harus dilanjutkan.

Ia menilai bencana alam dan bencana sosial menjadi tantangan yang sulit dielakkan bagi sektor pariwisata sehingga diperlukan langkah antisipasi dan kontinjensi yang sangat matang untuk menghadapinya termasuk mengembangkan manajemen krisis kepariwisataan dengan baik.

Arief Yahya juga mengapresiasi berbagai pemangku kepentingan yang mendukung sektor pariwisata termasuk pengembangan infrastruktur pendukung 10 destinasi super prioritas.

Hal itulah yang kemudian mendorong para pelaku usaha pariwisata yang tergabung dalam Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) menyatakan siap mendukung kemajuan pariwisata Indonesia.

Ketua Umum GIPI, Didien Junaedy menegaskan, GIPI sebagai mitra pemerintah siap mendukung program dalam meningkatkan kunjungan wisman ke Indonesia pada tahun mendatang.

"Peran industri pariwisata berada di garis terdepan dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata Indonesia,” katanya.

GIPI merupakan organisasi mandiri bersifat nirlaba, melaksanakan fungsinya sebagai mitra kerja pemerintah dan pemerintah daerah, serta menjadi wadah komunikasi dan konsultasi para anggota dalam penyenggaraan pembangunan kepariwisataan.
Pacuan kerbau khas Kabupaten Jembrana, Makepung Gubernur Bali Cup kembali digelar setelah sepuluh tahun terhenti, dengan target akan dikembangkan lebih jauh untuk menunjang sektor pariwisata, Minggu (14/7). (Antaranews Bali/Humas Jembrana/2019)

Proyeksi

Sektor pariwisata diyakini akan menjadi core economy Indonesia untuk lima tahun ke depan. Terlebih, saat ini sektor pariwisata telah ditetapkan sebagai leading sektor ekonomi bangsa oleh pemerintah melampaui CPO (minyak sawit mentah).

Indonesia memiliki ribuan destinasi, baik yang sudah bergaung namanya maupun yang masih menjadi ‘surga’ tersembunyi. Apalagi pembangunan infrastruktur terus digairahkan, maka bukan tidak mungkin dunia pariwisata akan menjadi bintang baru bagi pemasukan negara.

Prospek yang cerah itu mendorong pelaku industri perjalanan wisata yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) untuk menyatakan siap mendukung Pemerintah dalam mencapai target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada 2020.

“ASITA siap mendukung program promosi Kementerian Pariwisata dalam meraih target kunjungan 20 juta wisman. Kami akan menggencarkan promosi paket-paket inbound untuk mendatangkan kunjungan wisman dari border tourism,” kata Ketua Umum ASITA Nunung Rusmiati.

Baca juga: ASEAN seragamkan standar kompetensi tenaga profesional pariwisata

Pekerjaan rumah yang masih harus terus dilanjutkan tidak lain terkait dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang terjun di berbagai bidang pendukung pariwisata.

Mereka salah satunya dibutuhkan untuk mengembangkan atraksi baru termasuk pengembangan baru wisata melalui konsep "storynomics tourism".

Tim Quick Win 5 Destinasi Super Prioritas Pariwisata Irfan Wahid menjelaskan, formula baru "storynomics tourism" memang akan digunakan ke depan untuk mengakselerasi percepatan pembangunan wisata di lima kawasan destinasi super prioritas.

Irfan mencontohkan, kisah-kisah dari kawasan Danau Toba sejatinya begitu banyak namun tak pernah digarap dengan benar-benar optimal.

”Kita memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan alam yang begitu banyak namun masih sangat minim informasi maupun konten yang menceritakan tentang hal-hal tersebut. Seperti contohnya yang kita alami selama berada di Toba,” katanya.

Sebuah pendekatan pariwisata yang mengedepankan narasi, konten kreatif, dan living culture serta menggunakan kekuatan budaya sebagai DNA destinasi.

Pembangunan SDM pariwisata itu pula nantinya yang kemudian diharapkan akan semakin mengantarkan pariwisata menjadi sektor utama sekaligus instrumen untuk menyejahterakan seluruh rakyat di Tanah Air.