Jakarta (ANTARA) - Dosen hukum internasional di University of Western Australia Stephen Smith mengatakan KTT Asia Timur menjadi kendaraan dasar untuk mendorong arsitektur Indo-Pasifik, karena mewadahi berbagai pemangku kepentingan yang berkaitan dengan konsep kawasan tersebut.

Saat dijumpai usai acara Jakarta Geopolitics Forum III yang digelar Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) di Jakarta, Kamis, Smith mengatakan KTT Asia Timur dapat menjadi platform bagi seluruh pemangku kepentingan untuk menyelesaikan isu-isu regional dan global.

Baca juga: Indonesia sampaikan Indo-Pasifik di KTT Asia Timur

“Di dalam KTT tersebut ada para perdana menteri, presiden, menteri luar negeri dan menteri pertahanan. Mereka bertemu setiap tahun. Jadi semua tantangan dan isu dapat didiskusikan dalam forum tersebut,” katanya.

Selain itu, dia juga mengatakan KTT Asia Timur merupakan faktor penting bagi ASEAN dan Indonesia dalam peran untuk mendorong arsitektur Indo-Pasifik karena mengikutsertakan negara-negara seperti Amerika Serikat, China, India, Jepang, Korea Selatan dan Australia.

Sentralitas ASEAN juga disebut Smith sebagai organizing unit yang penting.

Baca juga: KTT Asia Timur bahas masalah Semenanjung Korea

“Semua pihak telah mengakui sentralitas ASEAN dan KTT Asia Timur. Sentralitas ASEAN juga penting karena secara geografi penting bagi Indonesia, terutama karena Indonesia dan negara-negara ASEAN merupakan titik tumpu Indo-Pasifik,” jelasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan pada pertengahan abad, pada tahun 2050 nanti, China, India, Amerika Serikat dan Indonesia akan menjadi empat ekonomi terbesar di dunia, dan kekuatan ekonomi serta populasi besar seringkali membawa kekuatan strategis dan militer.

“Jadi menurut analisis saya, itu akan menjadi landasan bagi arsitektur Indo-Pasifik,” katanya.

Baca juga: Pandangan ASEAN tentang Indo-Pasifik kurangi persaingan di kawasan