Jakarta (ANTARA) - Program hibah dana dari Uni Eropa (EU) untuk Indonesia yang bertajuk ASEAN Regional Integration Support - Indonesia Trade Support Facility (ARISE+ Indonesia) memprioritaskan empat aspek dalam penerapannya.

Keempat aspek tersebut adalah dukungan perdagangan dan investasi, peningkatan fasilitas perdagangan, peningkatan infrastruktur kualitas ekspor, dan promosi indikasi geografis.

“Investasi asing langsung (FDI) merupakan bagian dalam RPJMN 2020-2024 sehingga prioritas pertama yang akan didukung program ini adalah aspek investasi asing tersebut,” kata Ketua Tim Bantuan Teknis ARISE+ Indonesia, Paula Norris, di Jakarta, Rabu.

Adapun yang disasar antara lain produk dari sektor pertanian dan perikanan yang dianggap sebagai sektor unggulan yang potensial sehingga bisa menguntungkan Indonesia.

Sementara itu, perwakilan dari pemerintah Indonesia yang akan menjalankan program hibah ini menyebut bahwa selain peningkatan jumlah komoditas, harus ada juga peningkatan nilai tambah pada produk sektor unggulan tersebut.

Khususnya untuk peningkatan nilai tambah terkait indikasi geografis, yang salah satu produk unggulannya adalah kopi, ARISE+ Indonesia akan menyasar ekonomi kreatif.

“Kita akan tingkatkan kerja sama dengan pelaku usaha ekonomi kreatif untuk mencapai nilai tambah pada indikasi geografis,” ujar Deputi Bidang Ekonomi Bappenas RI, Bambang Prijambodo.

Sebagai program hibah dana, melalui ARISE+ Indonesia, EU menggelontorkan 15 juta euro (sekitar Rp232 miliar) untuk jangka waktu empat tahun mulai 2019 hingga 2023.

Implementasi program selama empat tahun tersebut dibagi-bagi dalam rencana kerja tahunan (annual work plan), di mana saat ini pihak ARISE+ Indonesia sudah siap dengan rencana kerja tahun pertama.

Baca juga: RI-Uni Eropa perkuat kerja sama ekonomi lewat ARISE Plus Indonesia