Jayapura (ANTARA) - Mayjen TNI Herman Asaribab dinilai merupakan salah satu putra terbaik asli Papua di tubuh korps militer TNI AD sehingga dipercayakan mengemban tugas sebagai Pangdam XVII/Cenderawasih.

"Herman Asaribab merupakan putra terbaik Papua dan dia ke sini kembali untuk Papua," kata tokoh Papua Sayid Fadhal Alhamid di Kota Jayapura, Papua, Selasa.

Pernyataan ini disampaikan oleh Sayid Fadhal Alhamid yang juga merupakan Kepala Pemerintahan Adat Papua menyusul dilantiknya Mayjen TNI Herman Asaribab menjadi Pangdam XVII/Cenderawasih oleh Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Andik Perkasa menggantikan pejabat lama Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring.

"Pak Herman ke Papua karena kepangkatannya sudah sesuai karir dan jabatannya. Dia merupakan anak adat Papua dan juga merupakan seorang militer, yang juga tidak bisa melupakan tempat asalnya sebagai anak adat Papua," katanya.

Baca juga: Pangdam Cenderawasih: Dua hercules disiapkan angkut mahasiswa Papua

Baca juga: Papua terkini - pergantian Pangdam tidak terkait kerusuhan

Baca juga: Papua Terkini - Pangdam Cenderawasih minta semua pihak menahan diri


Fadhal demikian sapaan akrab Sayid Fadhal Alhamid berharap Mayjen TNI Herman Asaribab tidak melupakan identitasnya sebagai seorang anak adat Papua yang diharapkan bisa melaksanakan tugasnya dengan baik dan bijak selama menjadi orang nomor satu di Kodam XVII/Cenderawasih.

"Tentunya, besar harapan kami bahwa Pak Herman merupakan Panglima Kodam pertama di Papua dan kedua di tanah Papua setelah Mayjen TNI Wayangkau di Papua Barat, sehingga setidaknya dia bisa mengemban tugas dengan baik dan tidak melupakan posisinya sebagai anak adat," katanya.

Sebagai anak adat Papua, lanjut Fadhal, hal itu akan terus melekat dalam dirinya hingga akhir hayat, tetapi sebagai abdi negara tentunya akan berakhir seiring purna tugas.

"Kehadiran beliau setidaknya bisa membawa suasana lebih baik, bisa memahami penderitaan, jeritan hati saudara-saudaranya, adik-adiknya, orang tuanya di Papua. Dia dipilih bukan juga karena persoalan di sini, tetapi punya kualitas, prestasi dan kemampuan," kata Fadhal.

Paradigma


Senada itu, Sekretaris Dewan Adat Papua (DAP) Leonard Imbiri mengapresiasi Mayjen TNI Herman Asaribab menduduki jabatan tertinggi sebagai Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, hanya saja akan menemui sejumlah kendalan jika paradigma di insitusinya tidak berubah.

"Beliau salah satu putra terbaik Papua, karena itu saya mau menyampaikan dua hal. Pertama, anak terbaik ini akan menjadi susah kalau paradigma negara terhadap persoalan Papua, sama seperti hari ini, dia ini akan celaka. Kenapa, karena kalau ada intelijen atau yang berikan informasi yang tidak benar kepada pusat tentang pendekatan yang dilakukan oleh pangdam, nanti satu atau dua hari bisa dicabut (copot,red)," katanya.

Sehingga, kata dia, jika pemerintah serius menempatkan anak asli Papua sebagai Pangdam XVII/Cenderawasih, maka berikanlah keleluasaan penuh untuk melakukan pendekatan sebagai anak adat kepada saudara-saudaranya di Bumi Cenderawasih.

"Jangan titip dia disini, tetapi dikte dia dimana-mana. Dia tidak akan melaksanakan tugasnya secara maksimal sebagai seorang perwira tinggi TNI tetapi juga sebagai anak adat. Karena itu kepercayaan yang diberikan sebagai pangdam harus disertai dengan keleluasaan kepadanya, dengan terlebih dahulu TNI, pemerintah merubah paradigma terhadap Papua terutama paradigma rasis, orang Papua bodoh dan tertinggal atau lainnya," katanya.

Ia mengaku khawatir jika keleluasaan tidak diberikan, maka bukan tidak mungkin putra terbaik asal Papua ini bakal tidak mulus karirnya selama mejadi panglima di Papua.

"Jika paradigma beda ini masih ada, maka jika besok DAP atau sejumlah orang Papua yang berseberangan bertemu dengan Pangdam XVII/Cenderawasih, bisa disudutkan bahwa dia (Mayjen TNI Herman Asaribab) mulai kerja sama dengan separatis. Ini bahaya, ini menurut saya akan menghancurkan karirnya menempatkan di Papua, karena membuat dia dilematis," katanya.

Yang kedua, lanjut Leonard, Mayjen TNI Herman Asaribab harus membuka komunikasi efektif dengan semua pihak, dengan gereja, dewan adat, mahasiswa, LSM dan semua pemangku kepentingan.

"Termasuk yang berbeda pandangan dengan negara ini. Dia harus membuka komunikasi. Hanya dengan cara itu, paradigma Papua terhadap tentara bisa dirubah. Dan dia bisa menjadi salah satu tentara atau Pangdam Cenderawasih yang sukses. Kami DAP, terbuka untuk komunikasi sebagai anak adat dengan beliau, tetapi juga sebagai Pangdam Cenderawasih," kata Leonard.

Sementara itu, Ketua Dewan Adat Wilayah La Pago Lemok Mabel menyampaikan selamat dan sukses kepada Mayjen TNI Herman Asaribab yang dilantik pada hari ini sebagai Pangdam XVII/Cenderawasih.

"Selamat dan sukses," kata Lemok.

Putra asli Papua, Mayjen TNI Herman Asaribab jabat Pangdam XVII/Cenderawasih menggantikan Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring yang mendapatkan tugas di lingkungan Mabes TNI sebagai Pa Sahli Tk. III Bid. Sosbudkum HAM dan Narkoba Panglima TNI.

Mayjen TNI Herman Asaribab sebelumnya merupakan Pangdam XII/Tanjungpura dan pernah bertugas sebagai Danrem 172/PWY pada 2013 dan Kasdam XVII/Cenderawasih pada 2015.

Serah terima jabatan (Sertijab) itu dipimpin oleh Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Andika Perkasa di Aula Tonny A. Rompis Makodam XVII/Cenderawasih, Bukit Polimak, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua, Selasa (17/9) siang.

Demikian hal ini disampaikan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Candra Wijaya dalam keterangan persnya di sela-sela mendampingi kunjungan kerja Kasad di Kota Jayapura.

"Jadi Mayjen TNI Herman Asaribab, menjabat Pangdam dua kali, yaitu Pangdam XII/Tanjunglura dan saat ini menjabat Pangdam XVII/Cenderawasih yang wilayah tanggung jawabnya meliputi Provinsi Papua," kata Candra.

Mayjen TNI Herman Asaribab, merupakan putra asli Papua, lahir di Jayapura 10 Juni 1964. Lulusan Akademi Militer tahun 1988 dan Lemhannas tahun 2014 tersebut, kaya akan pengalaman tugas dan telah menempati sejumlah jabatan penting, diantaranya Pa Sahli TK III Bid. Banusia Panglima TNI (2017), Wadan Seskoad (2015), Wadan Pussenif Kodiklatad (2015), Dirbinsen Pussenif Kodiklatad (2011), dan Danbrigif 20/IJK Dam XVII/Cenderawasih.