Jakarta (ANTARA) - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengenang pertama kali dirinya bertemu dengan salah satu insinyur paling berpengaruh di Indonesia tersebut setelah mendengar kabar wafatnya presiden ke-3 RI Baharuddin Jusuf Habibie,

Anies pertama kali bertemu dengan Habibie ketika duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah atas (SMA) di Yogyakarta. Dia berkesempatan mewawancarai Habibie yang kala itu Menteri Riset dan Teknologi (Menristek).

"Itu pengalaman yang tak terlupakan dan kemudian bersambung sampai ketika saya sudah betugas di sini pun masih saling silahturahmi dan ngobrol dengan beliau," kata Anies di Balai Kota Jakarta, Rabu.

Atas wafatnya Habibie, menurut Anies, adalah suatu kehilangan yang mendalam bagi Indonesia dengan berbagai prestasi dan kebijakannya bagi masyarakat Indonesia.

Baca juga: Habibie wafat - Jenazah tiba di rumah duka

"Indonesia berduka, insyaallah, saya percaya Pak Habibie dimuliakan di sisi Allah dan amal jariah luar biasa panjang," ucapnya.

Anies melanjutkan, "Betapa banyak anak yang dididik oleh Pak Habibie, ribuan anak yang disekolahkan oleh Pak Habibie untuk pendidikan yang luar biasa tinggi dan peran yang amat berjasa. Kita semua kehilangan."

B.J. Habibie adalah Presiden RI periode 1998—1999). Sebelumnya, sebagai Menristek 1978—1998).

Habibie diketahui wafat pada hari Rabu pukul 18.05 WIB pada usia 83 tahun. Kabar tersebut disampaikan Thareq Habibie.

Ketua Tim Dokter Kepresidenan (TDK) Prof. dr. Azis Rani dalam keterangan resminya menyebut bahwa Habibie masuk RSPAD sejak 1 September 2019.

Baca juga: Habibie Wafat - Muhaimin: Kader PKB kirim doa untuk Habibie

Ia ditangani tim dokter spesialis dengan berbagai bidang keahlian, seperti jantung, penyakit dalam, dan ginjal.

Sebelumnya, presiden ke-3 RI ini sempat dirawat di Jerman setelah mengalami kebocoran klep jantung.

Kabar kesehataannya yang menurun membuat sejumlah tokoh negeri ini mengunjungi B.J. Habibie di RSPAD Gatot Soebroto.