Jakarta (ANTARA) - Bisnis waralaba diyakini bakal pulih dan bisa tumbuh hingga sekitar 5 persen pada tahun ini, terlebih pasca penyelenggaraan Pilpres.

Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Levita Ginting Supit di Jakarta, Kamis mengakui tahun politik cukup berdampak pada bisnis waralaba karena pengembangan usaha harus ditunda hingga kondisi dianggap baik.

“Kami akui akibat tahun politik, semua bisnis mengalami penurunan. Yang tadinya mau kembangkan usaha ditunda dulu sampai pemerintah baru terpilih. Makanya mudah-mudahan tahun ini (tumbuh) bisa lebih dari 5 persen,” katanya.

Levita menuturkan pada 2018 pertumbuhan bisnis waralaba mencapai sekitar 3 persen. Meski di awal 2019 sempat dibayangi ketidakpastian karena situasi politik di Tanah Air, ia meyakini pertumbuhannya bisa lebih baik.

“Begitu selesai politik, bisnis itu kelihatan mulai tumbuh lagi. Yang dari luar negeri, yang tadinya ‘hold’ (menunda) juga mereka mau masuk lagi,” imbuhnya.

Levita menambahkan, faktor lain yang ikut mendongkrak pertumbuhan bisnis waralaba adalah membaiknya infrastruktur dasar di sejumlah wilayah di Indonesia.

Menurut dia, sebelumnya bisnis waralaba enggan berkembang ke sejumlah pelosok negeri karena terkendala minimnya infrastruktur. Masalah seperti pengantaran produk yang lama hingga keamanan membayangi pengembangan bisnis waralaba di daerah.

“Sekarang infrastruktur sudah sampai ke pelosok-pelosok sehingga pengusaha lebih bersemangat membuka ‘franchise’ di daerah-daerah mereka. Jadi kehadiran infrastruktur ini bisa dimanfaatkan pengusaha waralaba,” ujarnya.

Meski belum ada data rinci, secara kasar terdapat 2.000 an merek waralaba di Indonesia di mana 60 persennya merupakan waralaba lokal. Sekitar 40 persen bisnis waralaba di Indonesia didominasi bisnis makanan dan minuman (food and beverages/F&B).

Ada pun pada 2018, bisnis waralaba mencatatkan omzet sebesar Rp150 triliun.


Baca juga: Pameran waralaba FLEI 2019 kembali digelar pertengahan September
Baca juga: Kadin berharap Indonesia bisa ekspor waralaba ke luar negeri
Baca juga: WALI: jangan jadikan waralaba asing sebagai ancaman