Palembang (ANTARA) - Pemerintah Kota Palembang, Sumatera Selatan dan delegasi United Cities and Local Goverments Asia Pacific membahas Rencana Aksi Perubahan Iklim di Palembang, Senin.

Pembahasan dipimpin Asisten II Setda Kota Palembang Sinta Raharja yang dihadiri perwakilan UCLG Aspac Riza Iskandar, perwakilan CCROM (Centre for Climate Risk and Oppoptunity Management) IPB selaku rekanan UCLG Aspac M Ardiansyah, dan pimpinan Organisasi Perangkat Daerah Kota Palembang.

Asisten II Sekretaris Daerah Kota Palembang Sinta Raharja mengatakan, perubahan iklim menjadi perhatian bersama dari seluruh kota sehingga Pemerintah Kota Palembang berkomitmen tinggi dalam upaya mengatasi emisi gas rumah kaca.

"Terima kasih Palembang direkomendasikan sebagai salah satu kota yang menjadi pilot project. Kota Palembang siap untuk melakukan pemulihan demi keberlangsungan hidup dan warisan iklim yang baik bagi anak cucu kita nanti," ujar dia.

Ia mengatakan pemerintah kota berharap analisa dan penilaian yang dilakukan UCLG Aspac memberikan kontribusi positif bagi kemajuan serta pembangunan Kota Palembang.

Palembang direkomendasikan sebagai salah satu kota yang menjadi pilot project.

Baca juga: Indonesia hibahkan 1 juta dolar AS hadapi ancaman perubahan iklim


Sinta menyarankan, perlu dilakukan penyamaan langkah antarkota lainnya yang menjadi pilot project di Indonesia.

Sementara Perwakilan UCLG ASPAC Riza Iskandar mengatakan, para wali kota selama ini banyak bertanya terkait dampak negatif perubahan iklim karena komitmen untuk menekan karbon itu berada di tingkatan kota.

"Untuk men-support ini UCLG ASPAC yang merupakan satu-satunya organisasi pemerintah kota yang diakui dunia men-support hal ini. Di Asia Tenggara khususnya di Indonesia, kami berkoordinasi dengan KLHK dan direkomendasikan Kota Palembang sebagai pilot project rencana aksi iklim," ujar dia.

Menurutnya, DLHK merekomendasikan untuk berkoordinasi erat dengan pemerintah kota yang bersangkutan agar mendapatkan background perubahan iklim yang sedetail mungkin. Oleh karena itu pihaknya menggandeng CCROM IPB untuk melaksanakan program ini.

"Harapan Palembang untuk menyatukan komitmen bersama dengan kota lainnya akan dijadikan masukan dan dijadwalkan di tingkat pusat," ujar dia.

Perwakilan CCROM IPB M Ardiansyah menjelaskan, pihaknya akan mencari tahu berapa tingkat emisi gas rumah kaca dari sektor industri, transportasi, perkebunan, pertanian dan perikanan, serta limbah. Dari sektor ini akan diketahui sektor mana yang memberikan kontribusi terbesar terhadap efek gas rumah kaca.

"Kita juga akan melakukan analisis kerentanan terhadap Kota Palembang, dimulai dengan menetapkan indikator yang berpotensi menyebabkan kerentanan di Palembang," ujar dia.

Tahapan pertama menurutnya, akan dibentuk kelompok kerja dengan sumber daya manusia yang berkaitan dengan sektor yang dianalisa. Setelah semua data terhitung akan dilakukan perbandingan emisi rumah tangga per tahun untuk dianalisa tingkat kerentanan hingga di tingkat kelurahan.

"Perubahan iklim itu pasti akan terjadi. Sekarang bagaimana menguranginya agar tidak terjadi kenaikan suhu hingga dua derajat Celcius, sebab bila terjadi akan menyebabkan kita sulit beradaptasi," ujar dia.


Baca juga: Pencemaran udara Jakarta berdampak terhadap perubahan iklim