Bukittinggi (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bukittinggi, Sumatera Barat mencatat daerah itu mengalami inflasi 0,24 persen pada Agustus 2019 karena kenaikan indeks di tujuh kelompok pengeluaran.

Kepala BPS Bukittinggi Mukhlis di Bukittinggi, Senin, mengatakan secara umum selama Agustus 2019 mulai terjadi penurunan harga kebutuhan dibandingkan dengan harga selama Juli 2019.

"Meski harga mulai turun, inflasi tetap terjadi karena masih tingginya harga pada subkelompok bumbu-bumbuan dengan andil 3,14 persen," katanya.

Baca juga: Kota Tual Agustus inflasi 0,34 persen

Selama Agustus 2018, tujuh kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks yaitu kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau.

Selanjutnya kelompok perumahan, listrik, gas, air dan bahan bakar, kelompok sandang, kelompok kesehatan, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga serta kelompok transpor.

Baca juga: Kota Malang inflasi 0,19 persen Agustus 2019

Beberapa yang mengalami kenaikan harga selama Agustus 2019 yaitu cabai merah, Sekolah Menengah Pertama (SMP), emas perhiasan, kentang, ikan dencis, Sekolah Dasar (SD), belut, mobil, ketimun, buncis, ikan tongkol, cabai hijau dan lainnya.

Sementara penurunan harga terjadi padi bawang merah, daging ayam ras, tomat sayur, minyak goreng, apel, bawang putih, jeruk, jengkol, beras, gula pasir, tomat buah, wortel dan lainnya.

Dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), 44 kota mengalami inflasi dan sisanya 38 kota mengalami deflasi.

Bukittinggi berada di urutan keempat di Sumatera dan urutan ke 27 di Indonesia dari daftar kota yang mengalami inflasi.

Tingkat perubahan IHK menggambarkan daya beli masyarakat dalam memenuhi kebutuhan harian, makin tinggi inflasi maka makin rendah nilai uang dan daya belinya.

Baca juga: Inflasi Sumut capai 5,40 persen, lewati sasaran atas tahun ini