Padang, (ANTARA) - Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah X menjalin kerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri untuk meningkatkan keterampilan teknis mahasiswa sehingga lebih mudah beradaptasi dengan dunia kerja setelah lulus.

"Kerja sama yang dilakukan dalam bentuk magang di tempat usaha pengurus Kadin dan ini responsnya positif," kata Kepala LL Dikti Wilayah X Prof Herri di Padang, Rabu.

Menurut dia, selama ini tamatan perguruan tinggi belum sepenuhnya siap menghadapi dunia kerja karena lebih banyak belajar soal teori di bangku kuliah. Dengan adanya magang industri merupakan sarana bagi mahasiswa mengetahui seperti apa dunia kerja dan sarana meningkatkan keterampilan, ujarnya.

Ia juga menyampaikan akan menyusun pedoman dan panduan magang industri sehingga dapat diterapkan oleh perguruan tinggi swasta yang ada di wilayah kerja LL Dikti X yaitu Sumbar, Riau, Jambi dan Kepulauan Riau.

"Ini juga merupakan upaya meningkatkan kualitas lulusan perguruan tinggi sehingga siap bersaing di dunia kerja," ujarnya.

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat lulusan diploma mendominasi angka penganguran terbuka di provinsi itu dengan komposisi mencapai 10,86 persen dari total angkatan kerja 2,69 juta orang hingga Februari 2019.

"Salah satu penyebab tingginya penganggur lulusan diploma diduga karena terjadinya kejenuhan lembaga pendidikan terutama tingkat diploma yang menghasilkan lulusan cukup banyak namun belum terserap oleh dunia kerja," kata Kepala BPS Sumbar Sukardi.

Ia menenggarai salah satu contoh adalah banyaknya akademi keperawatan di Sumbar akan tetapi permintaan dan kebutuhan terhadap tenaga perawat tidak sebanding dengan jumlah lulusan.

Kemudian setelah lulusan diploma, penganggur di Sumbar didominasi oleh tamatan SMA sebanyak 7,80 persen, lulusan universitas 7,46 persen, lulusan SMK 6,06 persen dan SMP 4,09 persen.

Sukardi menyampaikan angkatan kerja di Sumbar pada Februari 2019 masih didominasi oleh penduduk bekerja berpendidikan rendah yaitu SMP ke bawah sebesar 1,34 juta orang atau 52,75 persen.

Sementara penduduk bekerja berpendidikan SMA sederajat berjumlah 806,32 ribu orang atau 31,68 persen, berpendidikan tinggi 396,13 ribu orang atau 15,57 persen terdiri atas diploma 104,75 ribu orang dan sarjana 291,38 orang.

"Artinya penawaran tenaga kerja yang tidak terserap didominasi oleh diploma dan mereka yang berpendidikan rendang cenderung mau bekerja apa saja," katanya.

Baca juga: 1.000 tenaga kerja Sumbar ditargetkan magang ke Jepang

Baca juga: Pencari kerja Sumbar masih sulit tembus proses magang ke Jepang