Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago mengatakan setuju dengan wacana Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dihidupkan kembali karena akan memandu pembangunan ke depan.

"GBHN akan memandu bagaimana pembangunan ke depannya. Tidak sepotong-sepotong tapi terintegrasi," ujar Pangi dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Senin.

Meski demikian, harus ada kajian mendalam agar sesuai dengan konteks sekarang. Tidak bisa konteks lama diterapkan karena tidak sesuai dengan kondisi saat ini.

Baca juga: Ketua MPR singgung soal GBHN dalam peringatan Hari Konstitusi

Baca juga: Realisasikan pemindahan Ibu Kota, Hasto: Perlu GBHN




Saat ini pemerintah memiliki Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), lanjut dia, tapi kadang-kadang tidak bisa memotret 20-30 tahun Indonesia ke depan. Sementara, Indonesia 50 tahun ke depan harus dijelaskan seperti apa.

"Apakah mau jadi negara industri, apakah kita mau menjadi negara pariwisata terbaik di dunia. Nah itu, harus dipandu garis besar itu," kata dia.

Dia menceritakan bagaimana pada masa Perdana Menteri Singapura yakni Lee Kuan Yew belajar mengenai haluan negara ke Indonesia dan kemudian diterapkan.

"Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, sangat mengapresiasi dan bangga dengan GBHN kita saat itu. Singapura itu, tidak maju mundur, sudah punya panduan. Mau apa 50 tahun ke depan itu sudah dipandu oleh garis besar itu," kata dia.

Dia mengatakan, Bapak Singapura itu sangat kagum dengan GBHN yang diterapkan oleh Suharto. Namun, Indonesia malah menghapus GBHN tersebut.

"Jadi, Lee Kuan Yew sebetulnya kagum dengan kita, dulunya. Tetapi kita, justru menghilangkan garis besar itu kan," kata dia lagi.

Baca juga: PKS dapat menerima gagasan GBHN

Baca juga: MPR rekomendasikan sistem perencaan nasional dengan model GBHN