Pekanbaru (ANTARA) - Seekor beruang madu (helarctor malayanus) mati akibat jerat di Desa Batu Teritip, Senepis, Kota Dumai, Riau.

“Beruang ini terjerat di kaki kanan depan dan diperkirakan berusia remaja,” kata aktivis Rimba Satwa Foundation (RSF), Solfarina ketika dikonfirmasi Antara di Pekanbaru, Kamis.

Ia menjelaskan, beruang tersebut awalnya ditemukan terjerat pada Selasa (13/8) oleh tim patroli gabungan RSF dan perusahaan PT. SGP (Suntara Gajah Pati). Kawasan hutan Senepis merupakan habitat satwa seperti beruang dan harimau sumatera.

Jerat dari tali nilon tersebut mencengkram kaki kanan beruang sehingga tidak bisa bergerak.

“Tim gabungan menemukan beruang yang terkena jerat di area kebun masyarakat, bekas hutan yang sudah dirambah, tepatnya di Desa Batu Teritip, Senepis,” ujarnya.

Menurut dia, di lokasi yang sama tim juga menemukan banyak jerat yang masih aktif, dan langsung dimusnahkan. Terhadap beruang yang terjerat, tim gabungan berusaha membebaskannya dan berhasil.

Setelah dibebaskan dari jerat, lanjutnya, diharapkan beruang madu itu bisa masuk ke hutan habitatnya. Namun, ternyata kondisi fisik beruang sudah sangat lemah.

“Kondisi tubuh lemah, kaki kanan membengkak dan dehidrasi. Tim berusaha memberi minum dan melepaskannya ke habitatnya,” ujar Solfarina.

Sejumlah personel dari tim patroli gabungan RSF dan SGP memberi minum seekor beruang madu (helarctor malayanus) korban jerat. Beruang itu akhirnya mati akibat jerat di Desa Batu Teritip, Senepis, Kota Dumai, Riau, Kamis (15/8/2019). (Antaranews/HO-RSF)


Sejumlah kamera trap juga dipasang di sekitar lokasi beruang untuk memantau pergerakan satwa tersebut. Namun, beruang madu malang itu tidak bisa bertahan hidup dan mati sekitar 50 meter dari lokasi jerat.

“Pada 15 Agustus, tim menemukan beruang dalam keadaan mati,” ujarnya.

Ia mengatakan sudah melaporkan kasus penemuan beruang madu tersebut ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. “Imbauan kepada masyarakat agar tidak lagi memasang jerat, sudah banyak korban satwa akibat jerat,” ujarnya.

Dalam kurun dua tahun terakhir satwa di Riau banyak yang mati akibat jerat. Pada 2018, jerat yang dipasang oleh warga di Kuantan Singingi membunuh seekor harimau sumatera (panthera tigris sumatrea) serta dua bayi harimau yang dikandungnya.

Kemudian, pada Maret 2019 seekor harimau sumatera kembali terkena jerat hingga luka parah di kawasan Restorasi Ekosistem Riau (RER) yang dikelola oleh PT Gemilang Cipta Nusantara di Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan. Harimau ini sempat diselamatkan dan diberi nama Inung Rio, hanya bertahap beberapa minggu saja sebelum akhirnya mati.