Padang (ANTARA News) - Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah X Sumatera Barat, Riau, Jambi dan Kepulauan Riau, Prof Herri mengatakan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) berperan strategis dalam memeratakan pendidikan tinggi di Indonesia.

"Ada empat ribu lebih perguruan tinggi di Indonesia, sebagian besar merupakan PTS," katanya, di Padang, Senin.

Dia menyebutkan hanya 200-an perguruan tinggi negeri di Indonesia, sehingga pada kenyataannya tidak mampu menjembatani pendidikan tinggi di 17 ribu lebih pulau.

Di sinilah peran PTS hadir di kota kecil, kabupaten bahkan kecamatan untuk menyalurkan harapan siswa lulusan SMA di daerah tersebut.

Sebab, sebagian besar masyarakat di daerah yang jauh dari kota besar masih sulit bersaing untuk masuk ke perguruan tinggi favorit.

"Dengan tujuan dan sasaran yang sama, PTS dapat menjaring banyak lagi mahasiswa dari daerah, khususnya 3T Tertinggal, Terdepan dan Terluar," katanya.

Baca juga: (Anggota DPR gagas konsolidasi PTS berbasis nasionalisme)

Sebagai gambaran sebutnya saat ini hanya 7 juta jiwa yang terdaftar di perguruan tinggi dari prakiraan penduduk Indonesia sebanyak 250 juta jiwa.

Hal tersebut kata Herri menjadi motivasi bagi pemerintah daerah, swasta untuk berlomba meningkatkan kualitas PTS di daerah.

Selain itu bisa juga membangun kampus baru sesuai prasyarat dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

"Dengan berkualitasnya ribuan PTS tentu akan menjamin terciptanya jutaan lulusan berdaya saing yang berimplikasi meningkatnya kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan," kata dia.

Sementara itu Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir saat berkunjung ke Padang beberapa waktu lalu menegaskan pemerataan pendidikan tinggi menjadi skala prioritas pusat dalam membangun sumber daya unggulan.

Salah satu pekerjaan rumah terbesar saat ini ujar dia, yakni memperkuat pendidikan tinggi di daerah 3 T dan pemberian kesempatan kuliah kepada warga berekonomi kurang.

Pewarta: MR Denya
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2017